Otakku sedang memutar beberapa kilobytes memori masa lalu, sambil beberapa kilobytes lainnya memproses penglihatanku tentang ... hujan.
Mungkin karena musim di negaraku hanya ada dua, dan tentu saja aku akan, melilih salah satu dari musim itu untuk aku sukai. dan itu... hujan.
Hujan. Diciptakan dari uap yang berkumpul lalu membentuk awan. Lalu karena semakin banyaknya uap air, lalu terjadilah, ketidakmampuan untuk menampung. dan terjadilah hujan.
Setahun lalu aku melihat hujan dari kaca restoran donat di perempatan gramedia Jogja. Orang tergesa-gesa, payung, jas hujan yang warnanya hampir sama semua, lampu jalan yang tertipu, dan beberapa orang pacaran. oiya. patung polisi dan dua buah tank perang jaman belanda. Kabur dari jam kantor, minum kapucino dan makan brownnis sambil melihat hujan.
Lalu hari ini.. tidak ada yang begitu menggelikan hati.. hanya.. duduk seharian di depan komputer, menyimak beberapa berita hari ini, melihat hujan, dan tentu saja, minum minuman hangat yang menurut otakku.. berguna bagi kehangatan tubuh.. padahal sebenarnya tidak.. dan imajinasi gambaran otakku sudah terkontaminasi dengan iklan sebuah produk kopi merek tertentu.
Ah.. biarlah itu terjadi.. karena hujan sudah akan selesai, minum tegukan terakir kopi, satu batang rokok, dan menikmati perjalanan jalan becek basah tergenang air sisa hujan. Mari, kita lanjutkan beberapa mimpi yang belum selesai.. dan tentu saja, tidak harus menjadi kenyataan. Maksudku adalah, mari kita tidur sejenak setelah hujan yang begitu deras menghujam kita. Dan kita bermimpi! Mimpilah!
Karena suatu saat, kamu tidak akan bermimpi lagi. Mimpimu terbeli semua oleh logikamu yang tak pernah berhenti berlogi. 2+2=4. 4+4=8. 8+4+2=14. Dan semua angka-angka itu ataupun semua teori-teori, rumus-rumus, nilai-nilai hidupmu, logika-logika itu, akan membeli semua mimpimu.
Yup, suatu saat, kita semua akan paham akan apa yang aku tulis ini atau mungkin kita semua sadar akan itu? Seberapa sering kalian bermimpi adalah seberapa sering kalian menikmati hujan dan setelah itu.. tertidur dengan pulas.
No comments:
Post a Comment