ada sarang burung walet di dadaku
mengeram, bertelur dan
belajar terbang pergi jauh meninggalkan sarangnya
11.22.2007
9.25.2007
8.19.2007
4.19.2007
pagi hari bersama sidharta
bagaimana engkau tidak bernafas dan menjadi anak panah jiwamu
bagaimana engkau berperang dengan egosentrik jiwamu
bagaimana engkau mengatur detak jiwamu dan berdiam serupa besi
engkau kopiku sekaligus cawanku pagi hari ini
pada burung pagi dan burung api, aku tinggalkan mimpiku malam tadi dan berjalan beriringan dengan siang yang mulai memanasi besi ini
bagaimana engkau berperang dengan egosentrik jiwamu
bagaimana engkau mengatur detak jiwamu dan berdiam serupa besi
engkau kopiku sekaligus cawanku pagi hari ini
pada burung pagi dan burung api, aku tinggalkan mimpiku malam tadi dan berjalan beriringan dengan siang yang mulai memanasi besi ini
3.11.2007
apa sekarang
berjalan sesuai naluri atau instingmu
berdialog sesuai keyakinanmu dan idiologimu
bekerjasamalah dengan nyawamu
apa sekarang
dan harus sekarang
berdialog sesuai keyakinanmu dan idiologimu
bekerjasamalah dengan nyawamu
apa sekarang
dan harus sekarang
3.05.2007
2.08.2007
simponi pagi tanpa rasa
burung pagi burung pagi
kemana dirimu hendak terbang hari inike sawahkah atau bertengger di atas gedung tinggi pertanda peradaban modern itu
burung pagi burung pagi
esok, kabarkan aku tentang hari ini dan ceritakan sehari penuh sampai larut malam tentang hari ini
hari ini, aku ingin tidur saja dan tidak berminat melihat dunia
burung pagi burung pagi
sangat iri memandangmu yang tidak mempunyai rasa dalam memandang sesuatu
burung pagi,
aku cemburu padamu
kemana dirimu hendak terbang hari inike sawahkah atau bertengger di atas gedung tinggi pertanda peradaban modern itu
burung pagi burung pagi
esok, kabarkan aku tentang hari ini dan ceritakan sehari penuh sampai larut malam tentang hari ini
hari ini, aku ingin tidur saja dan tidak berminat melihat dunia
burung pagi burung pagi
sangat iri memandangmu yang tidak mempunyai rasa dalam memandang sesuatu
burung pagi,
aku cemburu padamu
1.26.2007
kamu dimana
dimana kamu
kemana kamu
aku mencarimu
mencari jawaban dimana kamu
mencari jawaban kemana kamu
aku mencarimu
dan ternyata aku tersesat ketika aku mencarimu
dan ternyata aku tak tau aku dimana
dan ternyata aku tak tau aku kemana
dimana kamu
kemana kamu
aku ingin mengajakmu kemana kamu suka
aku ingin mengajakmu dimana kamu suka
kamu..
dimana?
dimana kamu
kemana kamu
aku mencarimu
mencari jawaban dimana kamu
mencari jawaban kemana kamu
aku mencarimu
dan ternyata aku tersesat ketika aku mencarimu
dan ternyata aku tak tau aku dimana
dan ternyata aku tak tau aku kemana
dimana kamu
kemana kamu
aku ingin mengajakmu kemana kamu suka
aku ingin mengajakmu dimana kamu suka
kamu..
dimana?
new day
hari ini hari baru
buktinya, semua orang minum kopi pagi ini
hari ini hari bukan kemarin
buktinya hari ini aku menemukan hal-hal ganjil yang tidak aku temui kemarin
hari ini hari dimana aku tidak menelponmu
buktinya hari ini memang aku tidak ingat sedikitpun wajahmu
hari ini harinya tuhan
buktinya pagi ini turun hujan dan semua orang malas beranjak pergi ke kantor
hari ini hari baru
buktinya, semua orang minum kopi pagi ini
hari ini hari bukan kemarin
buktinya hari ini aku menemukan hal-hal ganjil yang tidak aku temui kemarin
hari ini hari dimana aku tidak menelponmu
buktinya hari ini memang aku tidak ingat sedikitpun wajahmu
hari ini harinya tuhan
buktinya pagi ini turun hujan dan semua orang malas beranjak pergi ke kantor
di Jogja sedang Sunset!
Aku tidak menikmatinya kemarin, tetapi hanya mendesah pelan.. Ah, kamu.. Kenapa kamu tidak memberi kabar padaku jika kamu sekarang telah seperti itu sekarang.
Memori yang sangat padat sedang tidak mau diganggu oleh realitas. Mengingat terus dan memutar piringan hitam yang melantunkan lagu-lagu Frank Sinatra.
Lalu aku bertanya, kemana botol bekas yang aku minum dan aku buang di kolong itu satu tahun yang lalu? Apakah dia sudah bertemu dengan air yang lain?
Jogja sedang Sunset!Remang-remang dalam ilusi, syahdu dalam birama. Pelan sekali sunset-nya. Waktu, cahaya, angin, percepatan.
Aku tidak mau mengingat sangat cepat! Aku mau pelan! Pelan sekali hingga aku bisa melihat dan mencium bau waktu itu.
Aku tidak menikmatinya kemarin, tetapi hanya mendesah pelan.. Ah, kamu.. Kenapa kamu tidak memberi kabar padaku jika kamu sekarang telah seperti itu sekarang.
Memori yang sangat padat sedang tidak mau diganggu oleh realitas. Mengingat terus dan memutar piringan hitam yang melantunkan lagu-lagu Frank Sinatra.
Lalu aku bertanya, kemana botol bekas yang aku minum dan aku buang di kolong itu satu tahun yang lalu? Apakah dia sudah bertemu dengan air yang lain?
Jogja sedang Sunset!Remang-remang dalam ilusi, syahdu dalam birama. Pelan sekali sunset-nya. Waktu, cahaya, angin, percepatan.
Aku tidak mau mengingat sangat cepat! Aku mau pelan! Pelan sekali hingga aku bisa melihat dan mencium bau waktu itu.
Otakku sedang memutar beberapa kilobytes memori masa lalu, sambil beberapa kilobytes lainnya memproses penglihatanku tentang ... hujan.
Mungkin karena musim di negaraku hanya ada dua, dan tentu saja aku akan, melilih salah satu dari musim itu untuk aku sukai. dan itu... hujan.
Hujan. Diciptakan dari uap yang berkumpul lalu membentuk awan. Lalu karena semakin banyaknya uap air, lalu terjadilah, ketidakmampuan untuk menampung. dan terjadilah hujan.
Setahun lalu aku melihat hujan dari kaca restoran donat di perempatan gramedia Jogja. Orang tergesa-gesa, payung, jas hujan yang warnanya hampir sama semua, lampu jalan yang tertipu, dan beberapa orang pacaran. oiya. patung polisi dan dua buah tank perang jaman belanda. Kabur dari jam kantor, minum kapucino dan makan brownnis sambil melihat hujan.
Lalu hari ini.. tidak ada yang begitu menggelikan hati.. hanya.. duduk seharian di depan komputer, menyimak beberapa berita hari ini, melihat hujan, dan tentu saja, minum minuman hangat yang menurut otakku.. berguna bagi kehangatan tubuh.. padahal sebenarnya tidak.. dan imajinasi gambaran otakku sudah terkontaminasi dengan iklan sebuah produk kopi merek tertentu.
Ah.. biarlah itu terjadi.. karena hujan sudah akan selesai, minum tegukan terakir kopi, satu batang rokok, dan menikmati perjalanan jalan becek basah tergenang air sisa hujan. Mari, kita lanjutkan beberapa mimpi yang belum selesai.. dan tentu saja, tidak harus menjadi kenyataan. Maksudku adalah, mari kita tidur sejenak setelah hujan yang begitu deras menghujam kita. Dan kita bermimpi! Mimpilah!
Karena suatu saat, kamu tidak akan bermimpi lagi. Mimpimu terbeli semua oleh logikamu yang tak pernah berhenti berlogi. 2+2=4. 4+4=8. 8+4+2=14. Dan semua angka-angka itu ataupun semua teori-teori, rumus-rumus, nilai-nilai hidupmu, logika-logika itu, akan membeli semua mimpimu.
Yup, suatu saat, kita semua akan paham akan apa yang aku tulis ini atau mungkin kita semua sadar akan itu? Seberapa sering kalian bermimpi adalah seberapa sering kalian menikmati hujan dan setelah itu.. tertidur dengan pulas.
Mungkin karena musim di negaraku hanya ada dua, dan tentu saja aku akan, melilih salah satu dari musim itu untuk aku sukai. dan itu... hujan.
Hujan. Diciptakan dari uap yang berkumpul lalu membentuk awan. Lalu karena semakin banyaknya uap air, lalu terjadilah, ketidakmampuan untuk menampung. dan terjadilah hujan.
Setahun lalu aku melihat hujan dari kaca restoran donat di perempatan gramedia Jogja. Orang tergesa-gesa, payung, jas hujan yang warnanya hampir sama semua, lampu jalan yang tertipu, dan beberapa orang pacaran. oiya. patung polisi dan dua buah tank perang jaman belanda. Kabur dari jam kantor, minum kapucino dan makan brownnis sambil melihat hujan.
Lalu hari ini.. tidak ada yang begitu menggelikan hati.. hanya.. duduk seharian di depan komputer, menyimak beberapa berita hari ini, melihat hujan, dan tentu saja, minum minuman hangat yang menurut otakku.. berguna bagi kehangatan tubuh.. padahal sebenarnya tidak.. dan imajinasi gambaran otakku sudah terkontaminasi dengan iklan sebuah produk kopi merek tertentu.
Ah.. biarlah itu terjadi.. karena hujan sudah akan selesai, minum tegukan terakir kopi, satu batang rokok, dan menikmati perjalanan jalan becek basah tergenang air sisa hujan. Mari, kita lanjutkan beberapa mimpi yang belum selesai.. dan tentu saja, tidak harus menjadi kenyataan. Maksudku adalah, mari kita tidur sejenak setelah hujan yang begitu deras menghujam kita. Dan kita bermimpi! Mimpilah!
Karena suatu saat, kamu tidak akan bermimpi lagi. Mimpimu terbeli semua oleh logikamu yang tak pernah berhenti berlogi. 2+2=4. 4+4=8. 8+4+2=14. Dan semua angka-angka itu ataupun semua teori-teori, rumus-rumus, nilai-nilai hidupmu, logika-logika itu, akan membeli semua mimpimu.
Yup, suatu saat, kita semua akan paham akan apa yang aku tulis ini atau mungkin kita semua sadar akan itu? Seberapa sering kalian bermimpi adalah seberapa sering kalian menikmati hujan dan setelah itu.. tertidur dengan pulas.
Location: bus way transjakarta
Title: Hei.. Liat!
Mataku berayun cepat, meliat tiap-tiap kepala, dan kaki milik masing-masing kepala. Semuanya, saling punya masing-masing cerita.
Kepala A Lihat, betapa otakku selalu berpikir untuk mengolah keuangan perusahaan multi internasional ini.. Dan lihat, kakiku terlalu sering terkilir lantaran sering berdiri berdesakdesakan..
Kepala B Liat, betapa sering kepalaku terantuk kantuk lantaran kekurangan tidur.. Dan lihat, kakiku lesu menjulur tak sadarkan diri..
Kepala C Dari tadi, kepala itu hanya bengong dan kakinya menjadi otaknya untuk tetap berdiri..
Kepala D Mengangguk angguk sambil kupingnya dijejali nada ber-beat kencang.. "Bodo amat dengan yang lain!".. Dan kakinya juga menggangguk angguk tanda setuju dengan kepala..
Kepala E Melongok ke jendela dan dibarengi dengan mulutnya yang bilang, "Mereka lagi pada ngapain sih? Hari gini masih demo?!".. Dan kakinya terlalu menjulur hingga mengganggu yang lain..
Kepala F Waspada dengan kaki tegap memakai sepatu fantopel..
..
Mereka.. Kepala.. Dan kaki.. Aku ucapkan selamat!
Mereka.. Telah menjadi aktor dan aktris film pendek komedi satir, kepalaku.
Title: Hei.. Liat!
Mataku berayun cepat, meliat tiap-tiap kepala, dan kaki milik masing-masing kepala. Semuanya, saling punya masing-masing cerita.
Kepala A Lihat, betapa otakku selalu berpikir untuk mengolah keuangan perusahaan multi internasional ini.. Dan lihat, kakiku terlalu sering terkilir lantaran sering berdiri berdesakdesakan..
Kepala B Liat, betapa sering kepalaku terantuk kantuk lantaran kekurangan tidur.. Dan lihat, kakiku lesu menjulur tak sadarkan diri..
Kepala C Dari tadi, kepala itu hanya bengong dan kakinya menjadi otaknya untuk tetap berdiri..
Kepala D Mengangguk angguk sambil kupingnya dijejali nada ber-beat kencang.. "Bodo amat dengan yang lain!".. Dan kakinya juga menggangguk angguk tanda setuju dengan kepala..
Kepala E Melongok ke jendela dan dibarengi dengan mulutnya yang bilang, "Mereka lagi pada ngapain sih? Hari gini masih demo?!".. Dan kakinya terlalu menjulur hingga mengganggu yang lain..
Kepala F Waspada dengan kaki tegap memakai sepatu fantopel..
..
Mereka.. Kepala.. Dan kaki.. Aku ucapkan selamat!
Mereka.. Telah menjadi aktor dan aktris film pendek komedi satir, kepalaku.
.. inikah masa lalu mereka? lalu menjadi masa depan kita? lalu sekarang adalah masa lalu kita esok hari? dan masa depan adalah teramat kacau karena bilangan-bilangan yang berkembang sedemikian banyak? barangkali si kecil dalam foto ini sekarang sudah menjadi bilangan yang menentukan hasil akhir sebuah desa? atau kelurahan? atau bahkan negara? atau hanya menjadi bilangan langganan para petugas sensus?
maumu apa? mauku begini. aku tidak mau begitu. lalu bagaimana? salah satu harus kesanana. dan sebelah rumah ini apakah rumah milik pak lurah? pertanyaan dan jawabannya. waktu dan korelasi. kebetulan dan perjumpaan. hidup dan manusia. tuhan dan homo sapiens.
.. karena terlalu banyak minum, dia kecemplung got. plung!
maumu apa? mauku begini. aku tidak mau begitu. lalu bagaimana? salah satu harus kesanana. dan sebelah rumah ini apakah rumah milik pak lurah? pertanyaan dan jawabannya. waktu dan korelasi. kebetulan dan perjumpaan. hidup dan manusia. tuhan dan homo sapiens.
.. karena terlalu banyak minum, dia kecemplung got. plung!
dear arcaya manikotama,
.. kemarin aku ke sebuah bank.. lalu tanpa aku sadari ternyata sebuah ruangan mirip chamber itu memiliki sebuah irama yang membuatku takjub dan aku coba benar-benar merekam semua itu.. bunyi sepatu.. bunyi telepon menggema.. bunyi penghitung uang.. bunyi berisik manusia.. bunyi ringtones telepon genggam.. dan bunyi-bunyi lainnya.. otakku lalu menggambarkan sebuah ilusi kejadian perampokan.. bagaimana jika aku merampok saja hari itu lalu aku bebaskan semua orang dan aku menyandera diriku sendiri.. apakah aku punya sebuah harga? apakah gegana lalu dengan enaknya menembak saja aku yang sekaligus berperan ganda sebagai perampok dan sandera? lalu akan aku buat sebuah bunyi merdu dari bank itu.. aku jalankan semua penghitung uang, aku jalankan semua telepon, semua fotokopi, semua alarm, semua televisi, semua senapan yang mengarah padaku.. bank bank !! dua peluru mengenai aku.. dan ibu costumer service bilang padaku kalo aku harus datang seminggu lagi karena aku harus mengambil pin atm yang baru lantaran pinku yang dulu sudah hangus!
.. kemarin aku ke sebuah bank.. lalu tanpa aku sadari ternyata sebuah ruangan mirip chamber itu memiliki sebuah irama yang membuatku takjub dan aku coba benar-benar merekam semua itu.. bunyi sepatu.. bunyi telepon menggema.. bunyi penghitung uang.. bunyi berisik manusia.. bunyi ringtones telepon genggam.. dan bunyi-bunyi lainnya.. otakku lalu menggambarkan sebuah ilusi kejadian perampokan.. bagaimana jika aku merampok saja hari itu lalu aku bebaskan semua orang dan aku menyandera diriku sendiri.. apakah aku punya sebuah harga? apakah gegana lalu dengan enaknya menembak saja aku yang sekaligus berperan ganda sebagai perampok dan sandera? lalu akan aku buat sebuah bunyi merdu dari bank itu.. aku jalankan semua penghitung uang, aku jalankan semua telepon, semua fotokopi, semua alarm, semua televisi, semua senapan yang mengarah padaku.. bank bank !! dua peluru mengenai aku.. dan ibu costumer service bilang padaku kalo aku harus datang seminggu lagi karena aku harus mengambil pin atm yang baru lantaran pinku yang dulu sudah hangus!
Subscribe to:
Posts (Atom)